Breaking News

Fenomena Tangga Mandi ditepian Sungai/Paret “Antara Sisa Peradaban dan Keterbelakangan Pembangunan”


Kota Pontianak, kota air yang terus bergerak menuju modernisasi dan kemajuan disegala bidang. Disebut Kota air karena memiliki 16 Sungai dan 42 parit yang tersebar di 6 kecamatan yaitu Kecamatan Pontianak Barat, Pontianak Kota, Pontianak, Selatan, Pontianak Tenggara, Pontianak Timur dan Pontianak Utara berdasarkan data BPS Kota Pontianak Tentang sungai/parit di Kota Pontianak Menurut Kecamatan tahun 2015.

Pontianak Selatan      
Sungai Kapuas Kecil
Parit Bansir 
Parit Besar 
Parit Tokaya
 
Pontianak Tenggara
Sungai Raya                    
Parit Bangka
Parit Haji Husin
 
Pontianak Timur      
Sungai Kapuas Kecil
Parit Bating                     
Sungai Landak                  
Parit Daeng Lasibek                             
Sungai Kapitan                
Parit Haji Yusuf Karim                   
Sungai Jenggot                
Parit Jepon                       
Sungai Kapuas Besar
Parit Kongsi 
Parit Langgar 
Parit Mayor 
Parit Pangeran Pati             
Parit Semerangkai
Parit Tambelan 
Parit Wan Bakar Kapur 
Parit H.Yusuf 
Parit Jalil
Parit Norman
 
Pontianak Barat    
Sungai Nipah Kuning
Parit Sungai Kapuas
Sungai Parit Jawi            
Parit Labala
Sungai Kapuas Besar      
Parit Tengah
Sungai Sero
Sungai Beliung
Sungai Selamat
 
Pontianak Kota    
Sungai Bangkong            
Parit Besar
Sungai Kapuas Besar     
Parit Sungai Jawi 
Parit Sungai Kakap
 
Pontianak Utara    
Sungai Kapuas Besar      
Parit Jawa
Sungai Landak                
Parit Makmur
Sungai Kuning                
Parit Malaya
Sungai Durhaka              
Parit Nanas
Sungai Pandan                
Parit Pangeran
Parit Sungai Kunyit
Parit Sungai Putat
Parit Sungai Sahang
Parit Sungai Selamat
Parit Wan Salim
Parit Pak Kacong
Parit Pekong
Parit Lie
Parit Belanda
Parit Cekwa
Parit Pangeran II

Sumber: TAPEM Kota Pontianak
https://pontianakkota.bps.go.id/statictable/2017/04/25/75/sungai-parit-di-kota-pontianak-menurut-kecamatan-2015.html

Menariknya semua sungai/parit yang ada ini terhubung secara langsung maupun tak langsung ke Sungai Kapuas yaitu sungai utama dan merupakan sungai terpanjang yang ada di Indonesia dengan panjang yang mencapai 1.143 km. Pada zaman dahulu, masyarakat Kalimantan Barat umumnya dan Kota Pontianak pada khususnya memanfaatkan sungai ini sebagai salah satu sumber kehidupan, penopang perekonomian dan  menjadi jalur transportasi utama. Sungai Kapuas menjadi tonggak awal sejarah peradaban masyarakat di sepanjang aliran sungai.

Sungai dan parit merupakan jaringan transportasi pertama yang pemanfaatan awalnya digunakan sebagai jalur transportasi antar rumah ke rumah, antar permukiman ke pusat perdagangan serta antar pusat perdagangan ke lokasi pertanian didaerah pedalaman. Awalnya peradaban hunian masyarakat ditepian sungai berupa rumah lanting yaitu Rumah dengan pondasi rakit  yang menyebabkan hunian tersebut dapat mengapung diatas air. Ditahun 1950-1970 budaya bermukim tepian sungai dengan bentuk rumah lanting mulai berkurang dan penduduk mulai menggunakan tiang sebagai pengganti pondasi rakit. Oleh masyarakat lokal hunian tersebut disebut rumah tiang atau rumah panggung.

Beberapa faktor sosial yang menjadi penyebab perubahan bentuk hunian yaitu:
1. Mata pencaharian penduduk tidak lagi bergantung pada sistem aliran sungai. Penduduk lebih banyak bekerja sebagai buruh di pelabuhan dan pasar-pasar
2. Perkembangan pendidikan, teknologi dan pembangunan di lingkungan daratan lebih menjanjikan.
3. Meningkatnya jumlah penduduk.
4. Tingkat ekonomi penduduk semakin meningkat.
5. Kebijakan pemerintah yang akhirnya melegalkan permukiman diatas air.

Disinilah asal muasalnya peradaban “tangga mandi”,tangga dengan konstruksi kayu mulai menjadi kebutuhan masyarakat yang sangat mendasar antara lain untuk memudahkan mereka mencuci, mandi, menambatkan sampan dan sebagainya. Meningkatnya populasi dan pemukiman masyarakat kedaratan berimbas terhadap lokasi paret yang menjadi lokasi primadona dan strategis untuk dijadikan pemukiman baru. Dengan mengadopsi pola bermukim di tepian sungai, masyarakat ditepian paret juga menggunakan tangga mandi sebagai instrument utama mereka untuk menunjang segala kegiatan sehari-harinya, bisa dikatakan tangga mandi pada saat itu merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari masyarakat dan menjadi aset yang berharga.

Seiring perkembangan zaman, masyarakat modern cenderung memilih pola permukiman yang nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Hal ini berbeda dengan zaman dahulu yang masih mengandalkan kesamaan untuk tinggal berdasarkan asal usul, ataupun menjaga pola interaksi dengan tinggal berdekatan dengan kerabat (homogen). Masyarakat di Pontianak mulai beralih kearah pola permukiman yang bersifat heterogen dan mulai meninggalkan pola lama. selain itu pembangunan kota Pontianak yang semakin pesat dan pola pikir masyarakat yang semakin maju serta semakin tingginya taraf hidup masyarakat membuat masyarakat Pontianak modern tidak lagi mengutamakan berkumpul dengan kerabat dalam penentuan tempat tinggal, namun kenyamanan dan lokasi yang strategislah yang menjadi pertimbangan utama.

Di tahun 2018 ini kita masih bisa melihat pemukiman di tepian sungai dan tepian paret yang ada di kota Pontianak tapi dengan sudut pandang yang berbeda. Sebut saja di Kecamatan Pontianak selatan,  tenggara, Pontianak Kota, Pontianak Barat dan sebagian Pontianak Timur  sudah sangat jarang sekali masyarakat memanfaat paret atau sungai untuk kebutuhan sehari-hari hal ini dibuktikan dengan tidak adanya tangga mandi yang ada. Masyarakat lebih memilih menggunakan air bersih PDAM sebagai kebutuhan keseharian. Tetapi masih ada beberapa wilayah dikota Pontianak sebut saja kecamatan Pontianak Utara, sebagian Pontianak Timur mayoritas masyarakatnya masih memanfaatkan sungai dan paret untuk kebutuhan keseharian mereka, baik itu mencuci, mandi dan sebagainya dan tentu saja tangga mandi dilokasi ini masih sangat mudah ditemukan.

Ada hal menarik dari dinamika bertahannya tangga mandi dikalangan masyarakat yaitu kelompok masyarakat yang masih menggunakan tangga mandi adalah mereka yang memiliki ekonomi rendah, pendidikan yang rendah dan mendapatkan atau menikmati fasilitas infrastruktur yang minim. Mereka adalah kelompok masyarakat yang masih merasakan keterbelakangan pembangunan.


Tidak ada komentar