Breaking News

Mari Bantu PMI Kota Pontianak Mencukupi Kebutuhan Darah, Ayo Donor Darah !!!



Kepala seksi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Pontianak Rini Pujiastuti mengatakan keterbatasan darah di PMI bisa tertutupi jika saja banyak masyarakat yang berkenan menjadi pendonor sukarela. Dia mengatakan kesadaran masyarakat untuk menjadi pendonor sukarela masih sedikit, masih terbatas pada komunitas atau orang-orang tertentu. Padahal permintaan darah yang harus dipenuhi PMI Pontianak tidak hanya berasal dari Pontianak karena para pasien datang dari berbagai kab/kota di Kalbar. "Pontianak membutuhkan darah 100-150 kantong per hari. Karena itu PMI sangat mengapresiasi aksi sosial yang diadakan oleh masyarakat.
( Sumber : http://pontianak.tribunnews.com/2017/12/07/pontianak-butuh-150-kantor-darah-per-hari-pmi-kewalahan-memenuhi-permintaan-pasien).

Hal yang sama juga di ungkapkan oleh Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan kebutuhan darah di Kota Pontianak berkisar antara 80 hingga 120 kantong per hari. Namun kenyataannya, yang tersedia hanya kisaran 40-60 kantong darah saja. Ini menandakan jumlah ketersediaan darah masih kurang. Berkaca dari kondisi tersebut, pihaknya pun terus berupaya berinovasi dan berkreativitas untuk mengajak warga secara sukarela mendonorkan darahnya. Salah satunya dengan membuat pusat data pendonor rutin di Pontianak. "Masih banyak masyarakat yang belum  mengerti dan memahami bahwa berdonor itu adalah salah satu upaya untuk menjadi sehat," ujar Edi Kamtono yang juga Wakil Wali Kota Pontianak, usai berdonor pada kegiatan ‘Indonesia Berdonor’ di LPP RRI Pontianak, Rabu (6/9).

Dia pun mengajak masyarakat agar tak segan datang ke PMI Pontianak atau mengikuti acara-acara donor massal untuk berbagi. Dalam mencari donor, tak jarang digagas acara dengan menyediakan bingkisan sebagai daya tarik. Selain itu, ada penghargaan yang diberikan Presiden pada pendonor sebagai motivasi. "Kebutuhan darah ini karena adanya permintaan masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, rumah sakit-rumah sakit juga pasti banyak membutuhkan darah. Kita sudah bekerja sama dengan rumah sakit di Kota Pontianak," tuturnya.

Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kota Pontianak, Sidiq Handanu mengatakan, kebutuhan darah di Kota Pontianak sebenarnya tidak menggambarkan kebutuhan warga Kota Pontianak. Alasannya, di Kota Pontianak ada 13 Rumah Sakit, tipe B dan tipe A. Di mana semuanya merupakan rujukan dari seluruh kabupaten kota di Kalbar.
"Kami PMI Kota Pontianak ini sebenarnya melayani untuk Kalbar," ucapnya.
( Sumber : http://suarapemredkalbar.com/berita/ponticity/2017/09/07/pmi-pontianak-kekurangan-darah )

Menanggapi terbatasnya ketersediaan darah di PMI Kota Pontianak, Anggota Komisi D DPRD Kota Pontianak, Yandi mengatakan PMI harus membenahi pengelolaannya agar kepercayaan masyarakat terbentuk sehingga jumlah pendonor sukarela meningkat dan ketersediaan darah mencukupi permintaan.

Permintaan darah yang banyak haruslah diimbangi dengan pemasokan darah itu sendiri. Namun menurutnya saat ini masyarakat memiliki keengganan untuk mendonorkan darahnya karena tidak yakin dan percaya pada PMI dalam mengelola darah. Ketidakyakinan ini timbul karena menurutnya masyarakat banyak yang mengeluh ketika ingin mengambil darah ke PMI.

"Pengelolaannya dulu yang dibetulin supaya orang mau donor, orang yang donor ini bingung, ada yang mau donor tapi ketika orang perlu jadi susah," katanya, Kamis (7/12/2017). Untuk mendorong kesadaran agar masyarakat mau mendonorkan darah secara sukarela, dia mengatakan PMI harus meyakinkan masyarakat bahwa darah tersebut penting bagi orang-orang yang membutuhkan, dalam hal ini manajemen pengelolaan perlu diperhatikan.

"Kalau mekanisme sudah beres, saya yakin masyarakat dengan sukarela datang," ujarnya.
Dia juga berharap PMI menata dengan baik mekanisme ketika ada orang yang membutuhkan darah sehingga antara masyarakat dan PMI terjalin suatu kepercayaan.
"Kalau sudah tertata dengan baik, mekanisme dan pengelolaan sudah baik, masyarakat pasti lebih banyak yang datang mendonorkan darahnya dengan sukarela," pungkasnya.
( Sumber : http://pontianak.tribunnews.com/2017/12/07/dewan-sarankan-pmi-pontianak-perbaiki-mekanisme-dan-manajemen-pengelolaan-darah ).

Berdasarkan  Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia tentang Analisis Kebijakan Donor Darah Dan Implementasi Program Rekrutmen Donor Di Unit Donor Darah (UDD PMI) Kota Pontianak, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang, Volume 4, No. 02 , Agustus 2016, menyebutkan Pada tahun 2012 jumlah permintaan darah yang mampu terpenuhi hanya 30,5% dari jumlah semua permintaan yang ada, kemudian mengalami penurunan menjadi 29,2% pada tahun 2013 dan kembali meningkat pada tahun 2014 menjadi 37,3%. Pelaksanaan program rekrutmen donor di UDD PMI Kota Pontianak sudah dilaksanakan, namun belum optimal. Faktor yang mempengaruhi impelementasi :

Faktor Pertama ialah sumber daya. sumber daya manusia secara kuantitas sudah mencukupi kebutuhan, namun secara kualitas masih kurang, terutama kemauan petugas untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan alokasi dana yang diberikan untuk program rekrutmen donor oleh pimpinan terbatas, faktor sumber daya mempunyai peranan penting dalam implementasi kebijakan. Hal ini menegaskan bahwa bagaimanapun jelas dan konsistennya ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan, serta bagaimanapun akuratnya penyampaian ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan tersebut, jika para pelaksana kebijakan yang bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan kurang mempunyai sumber-sumber daya untuk melakukan pekerjaan secara efektif, maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan efektif.

Faktor kedua adalah disposisi (sikap dan komitmen). Disposisi yang tinggi berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pelaksanaan kebijakan. Jika implementasi kebijakan ingin berhasil secara efektif dan efisien, para pelaksana tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan dan mempunyai kemampuan untuk melakukan kebijakan itu, tetapi mereka juga harus mempunyai kemauan untuk melaksanakan kebijakan tersebut.

Faktor ketiga yang mempengaruhi implementasi program rekrutmen donor ialah struktur birokrasi. Struktur birokrasi dalam penelitian ini terdiri dari SOP dan struktur organisasi. SOP yang ada tidak digunakan sepenuhnya oleh petugas P2D2S, pelaksanaan program dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya yang ada dilapangan. Hal ini akan berakibat tidak baik terhadap jalannya program, program berjalan berdasarkan pemahaman pelaksana sendiri. Pada dasarnya SOP menjadi pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak. Dengan menggunakan SOP para pelaksana dapat memanfaatkan waktu yang tersedia. Jika suatu program tidak dijalankan berdasarkan SOP maka program seperti berjalan tanpa arah dan kemungkinan target program pun sulit tercapai.

Faktor keempat yang mempengaruhi pelaksanaan program rekrutmen donor ialah komunikasi. Aspek kejelasan dan konsistensi dalam proses komunikasi program rekrutmen donor dirasa masih kurang., ketidakjelasan pesan komunikasi akan mendorong terjadinya interpretasi yang salah bahkan mungkin bertentangan dengan makna pesan awal. Perintah-perintah implementasi kebijakan yang tidak konsisten akan mendorong para pelaksana mengambil tindakan yang sangat longgar dalam menafsirkan dan mengimplementasikan kebijakan.

Faktor kelima yang mempengaruhi pelaksanaan program rekrutmen donor ialah kondisi sosial. Kondisi sosial yang dimaksud ialah dukungan kelompok donor darah dalam membantu PMI merekrut donor. Dukungan yang diberikan oleh kelompok donor selama ini belum dioptimal. Hanya beberapa kelompok donor yang melakukan donor darah secara rutin. Dukungan dari lingkungan sosial sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan impelementasi kebijakan. Dukungan dari lingkungan sosial dapat membantu impelementor dalam mencapai target sasaran dengan cepat.

Melalui akun Facebook UTD PMI kota Pontianak  (https://www.facebook.com/transfusi.darahpontianak.9) tertanggal 15 Februari 2018 Jam 07.30 Wib hampir semua Golongan darah mengalami kekosongan stok hal ini menjadi sangat serius dan mengkhawatirkan.


Adapun hal-hal yang mungkin bisa menjadi Masukan dan bahan pertimbangan pihak PMI Kota Pontianak dalam memaksimalkan perekrutan Pendonor sukarela dan atau pendonor pengganti untuk menjadi pendonor tetap antara lain :

1. Menggandeng secara penuh komunitas-komunitas penggiat donor darah di Kota Pontianak untuk bersama-sama berkomitmen secara aktif untuk mencukupi kebutuhan darah yang ada.

2. Menghimbau kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkungan Pemerintah Kota Pontianak untuk berperan aktif berdonor darah secara rutin. Ada contoh ini telah dilaksanakan di India ( http://bisnis.liputan6.com/read/3214410/asyiknya-pns-di-negara-ini-dapat-cuti-tambahan-jika-donor-darah )

3. Membuat himbauan kepada Hotel-hotel atau pusat perbelanjaan dan lainnya yang ada di Kota Pontianak untuk melakukan donor darah massal secara rutin  minimal setahun 3x bagi karyawan yang bekerja diperusahaan, mengingat hotel-hotel dan pusat perbelanjaan semakin menjamur di Kota Pontianak yang menyerap banyak sekali karyawan. Ada pun beberapa hotel juga sudah melaksanakannya yang bekerjasama langsung dengan PMI Kota Pontianak, hal ini menjadi langkah yang sangat baik untuk ditularkan kepada yang lain https://www.youtube.com/watch?v=O2hbmquj9pk

4. Menghimbau kepada calon pasangan pengantin untuk berdonor darah terlebuh dahulu atau pengecekan darah sebagai syarat kelengkapan kepengurusan surat-menyurat pernikahan, hal ini dirasa baik karena dengan berdonor atau melakukan pengecekan darah pendeteksian penyakit bagi calon pasangan pengantin akan diketahui sekaligus mendidik pasangan baru untuk sadar betapa berdonor darah itu sangat penting.

5. Membuat aplikasi pendonor darah yang sederhana dan mudah di gunakan oleh pengguna, bisa berbasis android atau sejenisnya yang berisi informasi antara lain pendonor aktif, stok darah, kebutuhan darah , informasi donor darah massal dan lain-lain, dengan semakin majunya teknologi dan sumber daya manusia yang ada di kota Pontianak, orang perorang atau kelompok komunitas sudah banyak yang mampu membuat aplikasi berbasis android dengan baik dan bermutu.

6. Lebih memaksimalkan potensi PMI tingkat Kecamatan dan KSR yang merupakan binaan sekaligus ujung tombak PMI Kota Pontianak untuk mensosialisasikan dan menjadi contoh kongkrit kepada masyarakat mengenai pentingnya donor darah.

Dengan kesadaran, informasi yang memadai dan menyatukan semua energy yang ada bukan tidak mungkin Stok Kantong darah PMI Kota Pontianak akan Surplus. AYO DONOR DARAH demi kemanusiaan dan kesehatan kita bersama.





Tidak ada komentar