Breaking News

Hadiah Tempe Bacem dari Sang Motivator Terbaik


Hari ini aku menginjak usia 36 tahun, sederet perjalan hidup separuh sudah ku jalani dari urusan sekolah, kuliah, mencari kerja, menemukan jodoh, mempunyai anak, bekerja banting tulang dan lain sebagainya. Aku putera ke dua dari enam saudara yang kesemuanya laki-laki dan hari ini aku mempunyai anak yang juga kesemuanya laki-laki berjumlah tiga orang, hal yang luar biasa dan tentunya membuat predikat ibu dan istriku adalah wanita tercantik yang aku miliki.

Perjalanan hidup yang penuh dinamika, pasang surut dan kenangan-kenangan menghiasi hari-hariku menjalani takdir Ilahi ini. Mengkilas balik apa yang telah kulalui dan mengingat setiap jengkal apa yang membuatku sampai di titik ini, semua berawal dari tempe bacem …iyaaa tempe bacem, tempe bacem buatan tangan dari sang motivator terbaik, motivator yang tak pernah lelah, tak pernah mundur, tak pernah takut dan tak pernah meninggalkanku hingga saat ini, motivator itu adalah Ibuku.

Saat itu aku duduk kelas 2 Sekolah Dasar tahun 1989 menjelang makan siang yang mendekati sore ada aku, ibu dan adik bungsuku yang saat itu baru berusia 2 bulan. Kami makan siang agak terlambat karena ibu menunggu aku bangun dari tidur setelah kelelahan  bermain saat disekolah hari itu dan ibu dengan setianya menunggu aku bangun dan dengan setianya juga beliau tidak makan terlebih dahulu sebelum aku bangun.

Sambil duduk bersila sudah ada piring corak bunga-bunga dihadapanku, semangkok tempe bacem yang memang favoritku tak bisa membendung hasrat saat itu untuk merampasnya, ku abaikan nasi yang sudah tersaji dan tanpa sadar 2 potong tempe bacem secara bersamaan langsung terperangkap dalam gigitan, ibu hanya bisa tersenyum lembut melihat tingkah lakuku saat itu, sambil bertanya “enak ?” aku hanya menggangguk sambil melanjutkan gigitan berikutnya. Pertanyaan ibu berlanjut lagi “suka ?” Iya aku menjawab pertanyaan ibu. Sambil memasukkan nasi didalam piringku ibu berpesan lembut. Di !!! (Yadi adalah panggilanku dirumah), Yadi itu anak laki-laki nanti kalau besar harus bisa berbagi enak sama orang lain, gimana enaknya tempe yang Yadi makan begitu juga yang harus Yadi bagikan untuk orang lain, terus nanti kalau sudah besar tetaplah jadi orang yang ramah supaya di sukai orang lain, sama sukanya yadi kayak tempe itu, jangan sombong, jangan angkuh jangan kurang ajar sama orang yang tua, jika ada makanan enak jangan lupa dibagikan keorang lain ya !. Begitu pesan singkatnya walaupun pada saat itu aku tak paham betul apa maksud dari pesan itu. Setelah ibu merapikan sisa makan kami, ibu lalu memasukkan tempe bacem kesukaanku kedalam piluhan mangkok kecil, ternyata ibu membuat tempe bacem banyak sekali, beliau lalu mengantarkan tempe-tempe itu ketetangga kami, aku hanya melihat dari balik jendela sambil menjaga adikku yang kecil tertidur dalam ayunannya.

Ibuku adalah seorang guru disalah satu sekolah dasar di kota tempat kami tinggal, dengan aktifitasnya sebagai pengajar ibu tak pernah mengeluh mengurus kami anak-anaknya walaupun tanpa bantuan pembantu rumah tangga, dan kami pun dididik untuk mandiri.

Tempe bacem dari sang Motivator terbaik ini bukanlah hadiah biasa. Ini hadiah yang terasanya hingga seumur hidup, hadiah yang penuh dengan energy, hadiah yang memompa semangat, hadiah yang membuat aku tetap tangguh, hadiah yang tulus dari hati yang tulus. Terimakasih ibu engkau tetap motivator terbaikku.


Tidak ada komentar